Kejar Ketertinggalan Bangsa dan Umat

Tampaknya kekayaan alam bangsa Indonesia masih menyimpan paradoks berupa ketertinggalan pada pembangunan kualitas manusia. Ketertinggalan itu dapat dilihat dari beberapa laporan, seperti Indeks Korupsi (Transaparansi Internasional, 2011) yang merangking Indonesia di peringkat 100 dunia. Kemunduran pembangunan kualitas manusia Indonesia juga tergambar dari Laporan Daya Saing Global tahun 2010-2011 (World Economic Forum) yang mencatat nama Indonesia pada urutan ke-46 pada tahun 2011. Posisi Indonesia ini turun dari tahun sebelumnya yang berada di urutan 44.

Menurut Koordinator Kopertais Wilayah XI Kalimantan, Prof. Dr. H. Akh. Fauzi Aseri, MA, jawaban dari paradoks itu adalah pembangunan kualitas manusia Indonesia seutuhnya. Terkait dengan ini, upaya pembangunan ini mesti mempertimbangkan adanya keseimbangan antara pencapaian individu dan pembangunan moral-spiritual.Secara pokok, inilah yang disebut sebagai pendidikan integratif.

Dalam sambutan dan orasi ilmiahnya dengan tema ‘Mengejar Ketertinggalan Umat dan Bangsa melalui Pendidikan Integratif’, pada Wisuda S-1 Angkatan V Sekolah Tinggi Agama Islam Ma’arif (STAIMA) di Gedung Pancasila Kabupaten Sintang (23/6) , lebih lanjut koordinator mengulas bahwa pendidikan integral dimaksudkan agar terjadi keseimbangan antara potensi manusia baik akal, tubuh dan hati.

“Dengan ketiga elemen ini, pendidikan diharapkan tidak hanya meluluskan orang yang istimewa secara akademis, namun juga memiliki integritas tinggi, rasa tanggung jawab (sense of responsibility), dan dapat berkontribusi dengan baik di masyarakat,” tekan Rektor IAIN Antasari Banjarmasin itu.

Untuk mewujudkan keseimbangan itu, pada tataran epistemologis, diperlukan adanya pensejajaran ranah filosofis, kesadaran terhadap realitas dan disiplin ilmu pengetahuan. Pensejajaran ini dimaksudkan agar disiplin ilmu pengetahuan tidak tercerabut dari basis filosofis dan empiris.

Dalam beberapa kasus, seperti di Brunei Darussalam, penyelenggaraan pendidikan integratif seringkali dihadapkan oleh dua hambatan yaitu minimnya skill penyelenggara pendidikan dan iklim pembelajaran yang tidak kondusif.

Maka, agar konsepsi pendidikan integratif ini lebih realistis, menurut Koordinator, pendidik sebagai ujung tombak penyelenggaraan pendidikan integratif diharapkan dapat menyelenggarakan pendidikan melalui empat kerangka : kreatif, kontemplatif, resiprositas, dan responsibilitas. (mhm).

Tentang Koordinatorat Perguruan Tinggi Agama Islam Swasta

Kopertais Wilayah XI IAIN Antasari Banjarmasin, Wilayah Kalimantan Selatan Jl. Jend A. Yani Km. 4,5 Banjarmasin 70234 (0511) 3258103
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s